Michel Platini Kecam Gianni Infantino, Minta Presiden FIFA Mundur | Agen Taruhan Bola Online Terpercaya

bandarbolaBan

Michel Platini Kecam Gianni Infantino: Presiden FIFA Harus Mundur

Michel Platini Kecam Gianni Infantino: Presiden FIFA Dinilai Tak Lagi Menghormati Aturan Sepak Bola

Michel Platini kembali melontarkan kritik keras terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino. Mantan Presiden UEFA tersebut bahkan menilai Infantino sudah seharusnya meninggalkan jabatannya karena dianggap gagal menjalankan peran sebagai penjaga aturan sepak bola.

Pernyataan Platini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap kepemimpinan Infantino setelah sejumlah kontroversi yang mengguncang FIFA sepanjang 2026. Dalam wawancara dengan media Prancis, Platini menyoroti sejumlah keputusan yang menurutnya menunjukkan adanya persoalan serius dalam tata kelola sepak bola dunia.

Platini secara khusus menyinggung persoalan jeda pertandingan, durasi istirahat babak pertama pada final Piala Dunia 2026, serta keputusan terkait kartu merah pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Menurut Platini, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai bisnis atau kepentingan komersial. Baginya, masalah yang lebih mendasar adalah apakah FIFA sebagai organisasi tertinggi sepak bola dunia masih konsisten menerapkan aturan yang dibuatnya sendiri.

Michel Platini: Gianni Infantino Harus Mundur

Platini tidak menggunakan bahasa yang samar ketika membicarakan masa depan Infantino.

Ia menilai Presiden FIFA tersebut harus meninggalkan jabatannya karena dianggap tidak menjalankan fungsi sebagai pihak yang bertanggung jawab menjaga aturan permainan.

Kritik itu menjadi sorotan karena Platini bukan sosok biasa dalam sepak bola dunia. Ia merupakan mantan pemain besar Prancis, pernah memenangkan Ballon d’Or tiga kali, serta pernah memimpin UEFA.

Lebih dari itu, Platini dan Infantino pernah bekerja dalam organisasi yang sama. Infantino sebelumnya merupakan sekretaris jenderal UEFA ketika Platini masih menjadi presiden organisasi sepak bola Eropa tersebut.

Hubungan profesional keduanya kemudian berubah menjadi konflik terbuka setelah Platini tersingkir dari persaingan menuju kursi Presiden FIFA.

Kini, bertahun-tahun setelah perseteruan tersebut bermula, nama keduanya kembali menjadi pusat perhatian di tengah krisis tata kelola FIFA.

Kritik Platini Berpusat pada Aturan Sepak Bola

Salah satu poin utama yang disampaikan Platini adalah soal aturan pertandingan.

Ia menilai beberapa kejadian pada Piala Dunia 2026 menunjukkan adanya keputusan yang tidak sejalan dengan regulasi yang seharusnya menjadi pedoman.

Platini menyoroti jeda untuk kepentingan iklan yang menurutnya tidak tercantum dalam aturan permainan. Ia juga mempertanyakan durasi jeda babak pertama final Piala Dunia yang berlangsung lebih panjang dari batas normal.

Namun, persoalan yang menurut Platini paling serius adalah kasus kartu merah Folarin Balogun.

Keputusan terkait hukuman pemain Amerika Serikat tersebut menjadi salah satu kontroversi yang muncul selama turnamen. Platini menganggap kasus itu jauh lebih serius karena menyangkut penerapan aturan disiplin.

Bagi mantan pemain Prancis tersebut, seorang Presiden FIFA seharusnya menjadi pihak yang paling konsisten dalam menjaga regulasi.

Karena itu, ia melihat persoalan tersebut bukan sekadar perbedaan pendapat mengenai teknis pertandingan.

Platini Singgung Pengaruh Uang dan Kekuasaan

Kritik Platini terhadap Infantino sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba.

Dalam wawancara sebelumnya, Platini sudah menyampaikan pandangannya mengenai gaya kepemimpinan mantan koleganya tersebut. Ia menilai Infantino terlalu dekat dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan dan sumber daya ekonomi besar.

Platini juga pernah menyebut bahwa Infantino merupakan sosok yang sangat menyukai uang dan kekuasaan.

Pandangan tersebut kembali mengemuka ketika FIFA menghadapi kontroversi terkait rencana melibatkan investor swasta dalam pendanaan sejumlah aset komersial turnamen, termasuk Piala Dunia.

Rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah mendapat penolakan keras dari sejumlah pihak di dunia sepak bola. UEFA menjadi salah satu organisasi yang paling vokal mempertanyakan langkah tersebut.

Bagi Platini, perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan FIFA bukan hanya berkaitan dengan bagaimana sebuah turnamen diselenggarakan.

Ada pertanyaan lebih besar mengenai siapa yang sebenarnya memiliki kendali atas arah sepak bola dunia.

Rencana Investasi FIFA Jadi Sumber Kontroversi

Salah satu persoalan terbesar yang menekan Infantino pada 2026 berkaitan dengan rencana FIFA untuk mendapatkan investasi swasta melalui aset komersial kompetisinya.

Proposal tersebut memicu kekhawatiran mengenai transparansi, nilai komersial, serta tata kelola FIFA.

Rencana itu kemudian dibatalkan setelah mendapatkan penolakan dari berbagai pihak.

UEFA bahkan mengambil langkah lebih jauh dengan mempersiapkan proses hukum di Swiss terkait dugaan pengelolaan yang tidak semestinya dalam rencana tersebut. FIFA dan pihak terkait belum memberikan tanggapan yang mengubah pokok persoalan yang dipermasalahkan UEFA.

Situasi itu membuat tekanan terhadap Infantino semakin besar menjelang pemilihan Presiden FIFA berikutnya.

Infantino sendiri telah memimpin FIFA sejak 2016 dan diperkirakan akan berusaha mempertahankan posisinya dalam pemilihan 2027.

UEFA dan Sejumlah Pihak Mulai Menekan Infantino

Kritik Platini muncul ketika tekanan terhadap Infantino memang sedang meningkat.

Sejumlah organisasi sepak bola mulai mempertanyakan kepemimpinan FIFA di bawah pria berdarah Swiss-Italia tersebut.

European Leagues, organisasi yang mewakili berbagai liga profesional Eropa, bahkan menyatakan bahwa Infantino tidak seharusnya memiliki masa depan di FIFA. Mereka menilai terdapat persoalan dalam cara keputusan besar dibuat di tubuh organisasi sepak bola dunia tersebut.

Federasi Sepak Bola Belanda juga menyerukan reformasi besar-besaran terhadap FIFA. Mereka tidak hanya mempertanyakan kepemimpinan Infantino, tetapi juga mendorong perubahan struktur organisasi agar kekuasaan tidak terlalu terkonsentrasi pada satu posisi.

Dengan kondisi tersebut, komentar Platini mendapatkan momentum yang lebih besar.

Ia tidak lagi menjadi satu-satunya tokoh sepak bola yang mempertanyakan kepemimpinan Infantino.

Platini: Masalah Infantino Bukan Sekadar Ekonomi

Menurut Platini, perdebatan mengenai Infantino tidak boleh dipersempit menjadi persoalan pendapatan FIFA atau pengelolaan bisnis.

Ia melihat fungsi utama Presiden FIFA adalah menjaga sepak bola dan memastikan aturan berlaku secara konsisten.

Karena itu, ketika terjadi keputusan yang menurutnya bertentangan dengan aturan, Platini menganggap persoalan tersebut jauh lebih serius.

Pandangan tersebut juga berkaitan dengan kritiknya terhadap semakin besarnya pengaruh kepentingan komersial dalam sepak bola modern.

Sepak bola memang telah berubah menjadi industri global dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Namun, menurut pandangan Platini, perkembangan bisnis tidak boleh menghilangkan prinsip dasar olahraga.

Inilah yang membuat kritiknya terhadap Infantino terdengar lebih luas daripada sekadar perseteruan pribadi.

Konflik Platini dan Infantino Sudah Berlangsung Bertahun-tahun

Hubungan Platini dan Infantino sebenarnya memiliki sejarah panjang.

Saat Platini menjadi Presiden UEFA, Infantino bekerja sebagai sekretaris jenderal organisasi tersebut. Keduanya pernah berada dalam satu struktur dan bekerja dalam pengembangan sepak bola Eropa.

Situasi berubah ketika Platini menjadi salah satu kandidat kuat untuk menggantikan Sepp Blatter sebagai Presiden FIFA.

Namun, pada 2015, Platini tersandung kasus pembayaran sebesar 2 juta franc Swiss yang diterimanya dari FIFA. Kasus tersebut membuat langkahnya menuju kursi Presiden FIFA terhenti.

Infantino kemudian maju dalam pemilihan dan akhirnya terpilih menjadi Presiden FIFA pada 2016.

Platini kemudian berulang kali menyatakan bahwa dirinya menjadi korban dari sebuah proses yang membuatnya tersingkir dari perebutan jabatan tersebut.

Pada 2026, Platini kembali membawa persoalan tersebut ke jalur hukum di Prancis. Ia mengajukan pengaduan terhadap Infantino dan sejumlah mantan pejabat sepak bola dengan tuduhan yang berkaitan dengan dugaan konspirasi dan pengaruh terhadap proses hukum.

Infantino membantah tuduhan tersebut dan persoalan hukumnya masih menjadi bagian dari dinamika panjang hubungan kedua tokoh.

Platini Tak Berniat Kembali ke Dunia Administrasi Sepak Bola

Meski kembali aktif memberikan kritik, Platini tidak menunjukkan keinginan untuk kembali menduduki jabatan penting di organisasi sepak bola.

Ia justru menyatakan tidak tertarik kembali ke posisi puncak sepak bola.

Platini menegaskan bahwa dirinya sudah tidak ingin terlibat langsung dalam pengelolaan klub maupun institusi sepak bola.

Sikap tersebut menarik karena namanya sempat dianggap sebagai salah satu kandidat potensial untuk memimpin FIFA sebelum tersandung kasus pada 2015.

Kini, fokus Platini lebih banyak berada pada kritik terhadap tata kelola sepak bola dan proses hukum yang masih berkaitan dengan masa lalunya.

Platini Minta Sepak Bola Dikembalikan kepada Pelaku Utamanya

Dalam pandangannya, sepak bola seharusnya tidak sepenuhnya dikendalikan oleh birokrat.

Platini melihat pemain dan orang-orang yang benar-benar memahami permainan sebagai pihak yang seharusnya memiliki suara kuat dalam menentukan masa depan olahraga tersebut.

Ia bahkan pernah menyampaikan bahwa tokoh seperti Kylian Mbappe dan Zinedine Zidane merupakan bagian dari orang-orang yang seharusnya memiliki pengaruh dalam sepak bola.

Kritik tersebut memperlihatkan kekhawatiran Platini terhadap semakin jauhnya pengambilan keputusan dari aspek olahraga.

Baginya, sepak bola bukan hanya produk komersial.

Ada sejarah, budaya, pemain, suporter, dan nilai kompetisi yang harus tetap menjadi pertimbangan utama.

Masa Depan Infantino di FIFA Dipertanyakan

Tekanan terhadap Infantino menjadi semakin menarik karena ia masih memiliki ambisi untuk melanjutkan kepemimpinannya di FIFA.

Pemilihan Presiden FIFA berikutnya dijadwalkan pada 2027.

Sebelum sampai pada pemilihan tersebut, Infantino harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kritik terhadap tata kelola FIFA hingga persoalan hukum dan hubungan dengan konfederasi regional.

Kritik dari Platini menambah tekanan politik sekaligus simbolis.

Sebagai mantan Presiden UEFA dan salah satu figur terbesar dalam sejarah sepak bola Eropa, pernyataan Platini memiliki bobot tersendiri.

Namun, masa depan Infantino pada akhirnya tetap ditentukan oleh mekanisme politik FIFA dan dukungan dari asosiasi anggota.

Perseteruan Platini dan Infantino Belum Selesai

Perselisihan antara Michel Platini dan Gianni Infantino tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Keduanya memiliki sejarah yang saling berkelindan dengan perebutan kekuasaan di FIFA sejak 2015.

Kini, kritik Platini kembali muncul pada saat Infantino sedang menghadapi salah satu periode paling sulit dalam kepemimpinannya.

Platini menilai Infantino harus pergi karena dianggap tidak menghormati aturan sepak bola. Di sisi lain, berbagai persoalan yang menekan FIFA masih berkembang melalui jalur organisasi dan hukum.

Apakah tekanan tersebut akan memengaruhi masa depan Infantino di FIFA masih menjadi pertanyaan.

Yang jelas, sepak bola dunia kini sedang memasuki fase penting. Perdebatan mengenai siapa yang memimpin FIFA tidak lagi hanya menyangkut nama seorang presiden, tetapi juga tentang bagaimana olahraga paling populer di dunia itu akan dikelola pada masa mendatang.


FAQ Michel Platini Kecam Gianni Infantino

1. Mengapa Michel Platini mengecam Gianni Infantino?

Michel Platini mengkritik Infantino karena menilai Presiden FIFA tersebut tidak konsisten dalam menjalankan dan menjaga aturan sepak bola. Platini menyoroti sejumlah kontroversi pada Piala Dunia 2026, termasuk jeda pertandingan, durasi istirahat final, dan kasus kartu merah Folarin Balogun.

2. Apa yang dikatakan Platini tentang masa depan Infantino?

Platini secara tegas menyatakan bahwa Infantino harus meninggalkan jabatan Presiden FIFA karena menurutnya telah gagal menjalankan peran sebagai penjaga aturan permainan.

3. Apakah Platini dan Infantino pernah bekerja bersama?

Ya. Infantino pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal UEFA ketika Michel Platini menjadi Presiden UEFA.

4. Mengapa hubungan Platini dan Infantino memburuk?

Hubungan keduanya memburuk terutama setelah Platini tersingkir dari persaingan menuju kursi Presiden FIFA pada 2015. Infantino kemudian terpilih menjadi Presiden FIFA pada 2016.

5. Apakah Platini pernah mengajukan laporan hukum terhadap Infantino?

Ya. Pada 2026, Platini mengajukan pengaduan di Prancis yang menargetkan Infantino dan sejumlah tokoh lain terkait dugaan konspirasi, pengaruh perdagangan, dan tuduhan palsu.

6. Apa masalah terbaru yang dihadapi Gianni Infantino?

Infantino menghadapi tekanan terkait sejumlah kontroversi FIFA, termasuk rencana investasi swasta terhadap aset komersial kompetisi FIFA yang akhirnya dibatalkan. UEFA juga mengambil langkah hukum terkait persoalan tersebut.

7. Apakah UEFA mendukung kritik terhadap Infantino?

UEFA termasuk salah satu pihak yang paling keras mengkritik sejumlah kebijakan FIFA pada 2026. Tekanan tersebut juga muncul bersamaan dengan sikap kritis dari beberapa organisasi sepak bola lainnya.

8. Kapan pemilihan Presiden FIFA berikutnya?

Pemilihan Presiden FIFA berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 2027. Infantino diperkirakan akan berupaya mempertahankan posisinya.

9. Apakah Michel Platini ingin kembali menjadi Presiden FIFA?

Tidak. Platini menyatakan dirinya tidak memiliki keinginan untuk kembali ke jajaran pimpinan organisasi sepak bola dan memilih tidak terlibat lagi secara langsung dalam pengelolaan institusi sepak bola.

10. Apa inti kritik Michel Platini terhadap Infantino?

Inti kritik Platini adalah persoalan kepatuhan terhadap aturan. Menurutnya, Presiden FIFA sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sepak bola dunia harus menjadi orang pertama yang memastikan regulasi dihormati dan diterapkan secara konsisten.

 

Ditulis oleh: Redaksi Agentaruhanku.com
Update terakhir: 1 September 2026
Editor: ss.

Komentar